Memutuskan Menjadi Pekerja Lepas – Penuh Waktu di 2019

Setelah bertahun-tahun bekerja kantoran sebagaimana manusia kota besar pada umumnya, saya memutuskan untuk bekerja sendiri secara independen di tahun 2019 ini.

Sebenarnya ini semua sudah dimulai dari awal tahun 2018.

Namun karena saat itu saya masih bekerja secara remote (bekerja dari rumah tanpa terikat harus datang ke kantor) pada sebuah perusahaan Agensi desain di kota tempat saya tinggal, saya belum menghitung status pekerjaan saya sebagai seorang Pekerja Lepas (Freelancer) independen.

Jadwal kerja saya masih teratur, jam kerja saya di tetapkan oleh perusahaan, salary diberikan tiap bulan, semua hal-hal yang umumnya ada di sebuah perusahaan minus harus datang ke kantor tiap pagi dan pulang di sore harinya.

Pekerjaan saya sebelum itu adalah sebagai seorang In-House desainer pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan informasi.

Saat itu saya belum mengenal konsep kerja remote.  

Juga kultur di perusahaan tempat saya bekerja (sampai sekarang setelah saya tinggalkan) saat itu masih belum mengenal, menerapkan, atau memberi kesempatan kepada tipe pekerjaan seperti ini. Nilai-nilai mereka masih seperti nilai-nilai di perusahaan konvensional pada umumnya.

Pada kesempatan saat saya bekerja secara remote di Agensi desain itulah saya mulai membuka diri terhadap ide-ide untuk membangun karir menjadi seorang Freelancer.

Pekerjaan pertama yang saya dapatkan sebagai seorang Pekerja Lepas (begini saya akan menyebut istilah Freelancer untuk selanjutnya) adalah proyek pembuatan Identity design untuk sebuah kantor hukum yang berbasis di kota Palembang, – sebuah kota metropolitan menuju megapolitan- yang terletak di bagian selatan pulau Sumatera, pada pertengahan tahun 2018.

Proyek tersebut tidak sengaja saya dapatkan dari adik laki-laki saya yang kebetulan berkecimpung di dunia arsitektur. Dia dan timnya sedang menangani proyek pembangunan kantor fisik dari kantor hukum tersebut.

Ini adalah pertama kalinya saya menangani sebuah proyek tanpa dukungan dari (sebuah) tim.

Segala sesuatunya di kerjakan sendiri. Mulai dari perencanaan proposal, riset brand, riset kompetitor, proses pembuatan desain – dari sketsa sampai final, presentasi desain, dan segala hal-hal lainnya yang dulu biasanya saya bagikan kepada teman-teman di dalam tim saya.

Itu adalah pengalaman pertama yang menyenangkan. Walau tidak semuanya – pada proses proyek tersebut – berjalan mulus.

Masalah yang muncul di awal adalah komunikasi.

Terhitung, ini adalah pertama kalinya saya berhadapan langsung dengan klien tanpa perantara. Di lain pihak, ini adalah pertama kalinya pula klien saya bekerja sama dengan bidang kreatif seperti yang saya wakilkan.

Sebelumnya mereka tidak pernah memusingkan tentang brand, logo, hal-hal yang berkaitan dengan membangun identity design untuk perusahaan mereka. Singkatnya mereka belum mempunyai cukup informasi dan kesadaran bahwa semua itu merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang cukup penting dalam kelangsungan bisnis mereka.

Pada permasalahan komunikasi diatas, ternyata keterbukaan adalah kunci. Jika sedari awal kita tidak memposisikan diri sebagai pihak yang serba tahu, namun membuka diri terhadap proses kolaborasi dan memaksimalkan komunikasi dua arah antara kedua belah pihak, kecanggungan yang muncul di awal berubah menjadi proses kerjasama yang cair dan efektif.

Walaupun selanjutnya ada lagi permasalahan-permasalahan baru yang muncul.

Namun seiring waktu, permasalahan demi permasalahan tersebut berhasil kami lewati (Lah bukankah itu adalah peran saya disini sejak awal, sebagai pemecah masalah + pemberi solusi dari permasalahan design yang mereka hadapi? Lol :D).

Singkat cerita akhirnya proyek rampung. Setelah beberapa revisi yang mereka ajukan, klien saya mendapatkan hasil; sebuah sistem identitas desain yang terintegrasi untuk brand mereka. Dan saya mendapatkan portofolio pertama dalam karir independen saya.

Dari proyek ini saya mendapatkan banyak pengalaman yang salah satunya adalah bahwa untuk menyelesaikan suatu proyek yang besar tetaplah dibutuhkan sebuah tim, atau setidaknya partner demi efesiensi kerja dan strategi desain yang tepat sasaran.

Satu orang untuk mengerjakan hal tersebut, membuat waktu yang terbuang menjadi lebih banyak dan klien akan mengeluarkan lebih banyak biaya pula, yang seringkali semuanya tidak terkonversi menjadi profit untuk saya, namun hanya untuk hal-hal operasional semata.

Atau mungkin saya saja yang belum mendapatkan cara yang tepat untuk menyelesaikan proyek semacam itu secara super-efisien.

Kesimpulan saya sementara, jika ingin mengambil pekerjaan/proyek jangka panjang dengan tipe yang sama, saya tetap harus mempertimbangkan untuk membentuk sebuah tim kerja atau semacam Agency yang akan meng-handle keseluruhan proyek dari awal sampai akhir.

Cerita selanjutnya – dalam perjalanan saya membangun karir sebagai pekerja lepas independen ini -, saya mulai berpaling pada potensi pekerjaan melalui online/jejaring (daring). Untuk penjelasan lebih gampangnya, ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang tersedia melalui /di dalam jaringan internet.

Dari berbagai literatur yang saya baca, dengar dan tonton, juga dari pengalaman beberapa teman yang telah lebih dahulu terjun ke bidang ini, potensi penghasilan yang bisa di dapatkan dari pekerjaan daring sangatlah besar, jika tidak bisa di bilang – tidakterbatas.

Hmm, sebuah iming-iming/janji surga yang sangat menggiurkan.

Cukup masuk akal sih sebenarnya mengingat potensi klien yang akan kita temukan disini mencakup wilayah yang luas. Tidak hanya bicara tentang regional-nasional saja. World-wide adalah skalanya.

Disamping itu, fakta bahwa adanya perbedaan kurs mata uang yang cukup signifikan merupakan keuntungan tersendiri bagi masyarakat negara dunia ketiga seperti kita, Indonesia.

Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara memulainya?

Atau, bagaimana cara mendapatkan pekerjaan/menemukan klien potensial di rimba belantara internet yang sangat luas dan asing ini?

*tulisan bersambung ke Part 2….

Advertisements